Oleh : zulkifli (kader biasa HMI cabang teboSelasa,15 Juli 2025 M / 19 Muharram 1447 H
AKTIVIS INDEPENDENT - sebelum saya membahas ini, saya mau disclaimer dulu : ini murni hanya opini dan pandangan saya yang saya sertakan dalil sebagai penguat.
Terkadang saya berpikir, kok orang orang merasa lebih kenal orang lain ketimbang orang itu sendiri. Mereka terkadang lebih suka membicarakan orang lain di forum dan tempat diskusi nya, ketimbang membahas ide dan gagasan terbaru tentang perubahan dan bagaimana cara supaya kedepannya bisa lebih baik.
Pertanyaan saya, kok bisa orang itu menghina orang lain secara sepihak, seolah olah dialah yang lebih kenal dirinya. Seharusnya, kalau saya minta pandangan dan pendapat dia juga tentang masalah itu. Baik berupa pertanyaan langsung ataupun pertanyaan jebakan yang intinya membuka dia untuk berkata jujur terhadap masalah itu.
Kalau saya tidak suka untuk membahas hal itu, bukan berarti tidak pernah. Hal itu terjadi karna keluarga terutama ibu saya yang berusaha menghindari ghibah dan juga sifat saya yang introvert juga mempengaruhi itu.
Yang saya pusingkan kepada mereka adalah "kenapa mereka sok tahu tentang orang lain". Kalau saya saja, sering menyebut diri saya tidak kenal diri sendiri. Sehingga saya bertanya, siapa mereka, apakah mereka ibuku, keluarga ku, bahkan kenalan saja mungkin tidak pernah. Hanya kenal dari teman atau tahu karna temannya memanggil nama saya.
Kalau kalian, memperhatikan tulisan saya tadi, pasti kalian bertanya " kok bisa tidak kenal / paham diri sendiri". Dalam hal ini ada beberapa jawaban yang saya ajukan.
Saya sering mengira diri saya tidak bisa. Tapi setelah coba, hasilnya saya bisa. Apakah ini berarti, saya tidak paham atau kenal diri saya.
Setiap kali mengharap dan berekspektasi tentang sesuatu, seringkali saya gagal dalam mencapainya dan menghadapi kecewaan yang besar. Apakah proses dan perjuangan saya kurang. Tapi inilah yang membingungkan saya. Semakin diperjuangkan semakin terlepas ( kecuali tentang cinta karna cinta itu buta). Tapi ketika diperjuangkan semampunya dan tidak birahi (bahasa kasarnya) dalam menggapainya. Maka insyaallah perlahan akan dapat. Apakah ini skemanya atau tidak kenal diri saja dalam berharap dn berekspektasi.
Ada sebuah ungkapan مَنْ عَرَفَ نَفْسَهُ فَقَدْ عَرَفَ رَبَّهُ
Yang artinya barang siapa yang mengenal dirinya maka sungguh dia telah mengenal Tuhannya.
Dari ungkapan itu, bisa kah anda anggap kenal diri sendiri. Padahal, mengenal diri sendiri itu awal mula pelajaran dan juga akhirnya. Kenapa saya bilang seperti itu. Setiap kali manusia itu mencapai tingkat kesadaran dan pemahaman intelektual nya pasti dia akan bertanya "siapa saya". Itulah permulaan bahwasanya cahaya mulai memasuki dirinya dan membuka wawasannya tentang dunia. Dan juga akhirnya ilmu dan agama itu juga mengenal diri. Mustahil kita dapat mencapai ke khusu kan dalam beribadah tanpa mengenal diri.
Dalam mengenal diri saya banyak belajar salah satu ringkasnya kita ini bukanlah siapa-siapa, tapi dialah yang punya segalanya. Bahkan pemahaman saya yang awalnya lebih ke manunggal, saya putar haluannya. Sehingga saya sering bertanya siapa saya. Siapa itu yang disebut manusia. Apakah hanya yang punya akal tentu saja tidak. Jadi kalau lebih spesifik lagi, apa bedanya 1 manusia dengan yang lain.
Sehingga bisa disebut manusia itu mengenal dirinya. Tentu saja dari pemahaman dirinya tentang asal Ushul nya. Dari tanah, tanah mana, tanah yang sering dipijak itu, balek lah kalian ke sana. Tapi pemahamannya saya itu adalah kita ini berasal dari dia. Siapa dia, cari sendiri saja.
Kita simpulkan saja, tujuan kita mengenal diri, untuk mengenal tuhan. Karna langsung mengenal tuhan kita tidak bisa. Maka solusinya belajar dari diri kita sendiri dulu. Manusia yang sesungguhnya itu adalah ketika dia mati, ketika ruh kembali kepada sang pencipta nya dan jasad mau dikembalikan ke asalnya. Disitu bisakah kita lihat, siapa itu manusia?. Tidak bisa ngapa-ngapain, bahkan mandi saja di bantu oleh orang lain, maka perlulah kita belajar mati.
Jadi untuk mempermudah kita belajar saja tidur karna tidur adalah saudaranya mati. Apa yang dia lakukan seharian pasti akan terbawah sampai sebelum tidur (teringat). Setiap hari pasti kita tidur, belajar lah dari sana.
Sebagai penutupan, saya ingin mengutip ajaran dari filsup Yunani yaitu Gnothi seauton (kenalilah dirimu). Ilmi pengetahuan yang sejati berasal dari kesadaran atas keterbatasan diri sendiri.
Ketidaktahuan akan diri sering kali menimbulkan kegelisahan dan kehilangan arah. Ketika seseorang belum mengenal dirinya, mereka mudah terombang-ambing oleh opini orang lain, tekanan sosial, atau bahkan ambisi yang bukan berasal dari hati sendiri. Hal ini dapat menyebabkan ketidakharmonisan dalam kehidupan dan kesulitan dalam mengambil keputusan yang sejatinya mencerminkan kebaikan diri.
Mengenal diri bukanlah tujuan akhir, melainkan perjalanan tanpa henti yang membutuhkan kejujuran, keberanian, dan kesabaran. Dalam perjalanan ini, individu belajar menerima kelebihan dan kekurangan, merangkul perubahan, serta membuka diri pada pembelajaran baru. Dengan mengenal diri, seseorang mampu hidup otentik, menemukan makna, dan berkontribusi dengan lebih bermakna.
Oleh karena itu, pernyataan tersebut mengajak kita untuk berhenti sejenak, menengok ke dalam, dan bertanya: Siapakah aku sebenarnya? Apa yang aku yakini? Ke mana aku ingin pergi? Hanya dengan mengenal diri sendiri, manusia dapat membebaskan diri dari kebingungan dan meraih kehidupan yang penuh kesadaran dan kebijaksanaan.
Tidak semua orang mengenal dirinya karena proses itu menuntut keberanian untuk menyelami kedalaman hati dan pikiran yang seringkali tersembunyi. Tetapi mengenal diri adalah kunci utama untuk meraih kehidupan yang bermakna dan autentik. Sebuah perjalanan yang patut kita jalani dengan sepenuh hati.